“Ne, Shizu-chan…”
“Apa, bodoh?”
“Bisakah kau
mengabaikanku untuk sehari ini saja?”
“Seperti apa
mengabaikanmu?”
“Yah… Seperti tidak
meneleponku atau semacamnya…”
.
.
.
“Aku Bisa, Jika Itu
Maumu”
Durarara!! © Ryohgo
Narita
Rated: T
Genre: Boy Love,
Romance, Hurt/Comfort
Warning: AU, OOC,
Gaje
Tetes-tetes hujan
membasahi kota Ikebukuro siang itu. Awan hitam menyebar luas di langit dan
menghalangi cahaya mentari. Hari itu, Shizuo berada di rumahnya duduk dengan
tatapan kosong di sebuah sofa yang sangat empuk baginya. Matanya hanya terfokus
pada layar TV yang menyala di hadapannya, wajahnya pucat karena sakit. Sesekali
ia memindahkan channel TV tapi tidak ada yang menarik baginya.
Ia lalu bangkit dari
sofanya dan berjalan menuju dapur. Ketika ia hendak membuat tehe hangat,
tiba-tiba saja ia teringat masa lalu. Masa lalu yang sangat menyakitkan
hatinya.
“Aku rindu padamu.”
Ucapnya lirih. Dan tanpa sadar, ia mengeluarkan sedikit air mata. “Kembalilah
padaku, Izaya.” Sambil kembali ke sofanya dan menghangatkan badan di perapian.
“Jika saja hari itu aku
tidak mengabaikanmu…”
.
.
.
-Flashback-
Hari itu, di Raira
Gakuen, jam istirahat…
“Ne, Shizu-chan. Apa
kau sudah mengerjakan pr-mu?” tanya seorang lelaki bersurai hitam. Lelaki itu
selalu saja menggoda orang yang bernama Shizuo itu. Terkadang, mereka selalu
saja berantem. Walau begitu, mereka juga selalu saling berbagi, meski
sebenarnya mereka selalu berselisih satu sama lain. “Shizu-chan~” ujarnya
dengan lembut.
“Apa? Berisik sekali!
Aku sedang membaca buku dan kenapa kau selalu menggodaku, Izaya?!” bentak
Shizuo.
Sedangkan yang
dipanggil hanya tersenyum manis dan duduk di sebelah Shizuo. Izaya mendekatkan
bibirnya ke telinga Shizuo.
“Aku bertanya, apa kau
sudah mengerjakan…. PR-MU?!” teriak Izaya.
Nyaris, hampir saja
Shizuo ingin mencekek temannya yang menyebalkan itu. Namun, Izaya malah menjauh
dan pergi keluar kelas meninggalkan Shizuo.
“Ck… Dasar brengsek!
Sembarangan berteriak di telingaku.” Ujarnya.
Shizuo lalu
mengeluarkan sebuah buku dan pensil. Ia mulai mengerjakan tugasnya.
5
menit kemudian
Bel berbunyi tanda
istirahat sudah selesai. Shizuo masih saja terfokus dengan tugasnya. Dan tanpa
sadar, lelaki yang selalu menggodanya sudah berada di sampingnya.
“Ternyata kau tidak
bisa mengerjakannya, ya? Kasihan sekali, Shizu-chan~”
“BERISIK! AKU SEDANG
MENGERJAKANNYA, BODOH!”
“Lalu? Kenapa bukunya
masih kosong? Bukankah kau mengerjakannya pada waktu bel istirahat baru saja
dimulai?”
“AKU SUDAH TAHU! JADI
DIAM SAJA!”
.
.
.
Bel pulang sudah
berbunyi selang beberapa menit yang lalu. Namun, Shizuo masih saja terdiam di
bangkunya dan menatap buku favoritnya. Hening… Itu yang ia rasakan. Ia lebih
menyukai suasana yang sepi, hening, dan tenang. Oleh sebabnya, ia selalu diam
di kelas pada saat jam pulang sekolah, kelas sudah sepi. Tapi…
“Shizu-chan~”
Suasana yang tadinya
hening, tenang, sepi akhirnya menjadi berantakan dan ramai oleh seorang lelaki
bersurai hitam itu. Ia sangat ingin membunuh temannya itu.
“APA?! BISAKAH KAU
TENANG?! AKU TIDAK BISA KONSENTRASI KARENA ADA KAU, IZAYA!” bentak Shizuo.
“Ohoho, maafkan aku.
Aku tidak sengaja, Shizu-chan.” Shizuo hanya mengendus kesal, matanya kembali
terfokus pada buku yang berada di depannya.
“Ne, Shizu-chan. Ayo
kita pulang bersama.”
“Aku tidak bisa.”
“Ayolah… Jika kau tidak
mau pulang bersamaku, aku akan menciummu.”
“Apa kau gila?! Najis
sekali dicium olehmu!”
“Maka dari itu, ayo
pulang bersama!”
“Ckk…Ckk..”
.
.
.
“Ne, Shizu-chan! Antar
aku ke toko kue itu! Ayo, ayo!”
“Berisik! Aku tidak
mau!”
“Tapi—”
“Aku lelah. Aku ingin
cepat-cepat pulang.”
“Kenapa? Kau marah?”
“Ya! Aku marah karena
kau memaksaku pulang bersamamu!”
“Ohh.. Kalau gitu,
maafkan aku, Shizu-chan”
“Ckk… Lain kali jangan
memaksaku lagi.”
“Siap, Bos Shizu-chan~”
Izaya menggoda Shizuo sambil melingkarkan lengannya di lengan milik Shizuo.
“JANGAN MENGGANDENGKU,
BRENGSEK!”
“Tapi, aku menyukai
Shizu-chan”
“BERISIIIIIKK!”
.
.
.
Seperti biasanya,
Shizuo datang lebih pagi untuk bersekolah. Dan yang ia lihat di dalam kelasnya
adalah seorang lelaki berambut hitam yang sedang tertidur pulas. Shizuo
mendekatkan wajahnya ke wajah seorang lelaki itu.
“Ternyata kau datang
lebih pagi dariku, Izaya.” Ucapnya pelan. Shizuo tersenyum jahil. Dan
tiba-tiba, ia mencium kening milik Izaya. Shizuo lalu duduk di sampingnya dan
meletakkan tasnya. Di saat yang bersamaan, Izaya membuka matanya dan melihat
teman di sampingnya itu.
“Ohh… Shizu-chan.
Tumben sekali kau datang pagi sekali.”
“Dari dulu aku memang
selalu datang pagi, bodoh.”
Izaya tidak berpendapat
apapun, kali ini dia hanya diam, ia hanya membaca buku yang ada di depannya.
Shizuo melihat Izaya dengan tatapan bingung.
“Kenapa? Biasanya kau
selalu ceria. Kenapa sekarang mendadak menjadi pendiam?”
“Ah, tidak. Aku hanya
sedikit pusing dan tidak enak badan.”
“Hm, wajahmu pucat.”
“Oh ya?” Shizuo hanya
menjawab dengan anggukan. “Ini karena efek obat.” Jawabnya.
“Efek obat?” tanya
Shizuo kebingungan.
“Ahh, tidak ada. Aku
tidak apa-apa, kok. Jangan khawatir, Shizu-chan.” Shizuo hanya diam. Ia tidak
merespon kata-kata Izaya.
.
.
.
Di tengah pelajaran
pertama, Shizuo sesekali menatap Izaya yang sedikit-sedikit mengeluarkan air
mata dari iris sapphire-nya. Shizuo
kebingungan dan kembali memerhatikan guru yang sedang menjelaskan materi.
“Shi—Shizu-chan”
ucapnya lirih. Shizuo menatap teman yang berada di sampingnya. Matanya
terbelalak melihat temannya itu mengeluarkan darah dari hidungnya. Ia langsung
membawa temannya itu ke UKS. Wajah temannya terlihat sangat pucat karena darah
yang terus-menerus mengalir dari hidungnya. Darahnya tidak berhenti-berhenti.
Mata Shizuo hampir mengeluarkan air mata namun, ia menahannya sebisa mungkin.
.
.
.
2
minggu kemudian….
Sudah 2 minggu berlalu
sejak Izaya masuk rumah sakit. Izaya sudah bisa masuk sekolah seperti biasa.
Dan seperti biasa, ia selalu datang pagi-pagi.
“Ah, Shizu-chan.” Ujar
Izaya.
“Oh, kau sudah kembali.
Syukurlah.”
“Iya, aku sudah sembuh.
Meski di lain hari aku harus ke rumah sakit. Tapi, aku senang sekali karena
bisa bertemu denganmu lagi.” Izaya hanya tersenyum manis. Sedangkan, Shizuo
hanya terdiam melihat temannya itu. Ia memiliki perasaan yang berbeda dari
waktu itu. Waktu itu, ia sangat membencinya tapi, yang sekarang ini, perasaanya
kepada Izaya terasa berbeda. Perasaanya bukanlah benci, tapi cinta. Ia
mencintai Izaya, ia ingin melindungi Izaya. Namun, perasaan itu, tidak bisa diungkapkan
langsung kepadanya. Ia merasa takut mengungkapakan isi hatinya kepada Izaya.
Karena, ia takut ditolak olehnya.
“Hey, Izaya.”
“Hm? Apa, Shizu-chan?”
“Hari ini, kau mau
pulang bersamaku?”
Izaya terdiam sejenak.
“Wah, tumben sekali kau
mengajakku pulang bersama. Biasanya kau tidak pernah mau pulang bersamaku.”
Ujar Izaya.
“Berisik! Aku hanya
ingin mengajakmu saja, bodoh! Nanti bagaimana jika kau pingsan di jalan?! Apa
akan ada yang mau menolongmu?!”
“Hahaha… Iya, iya. Aku
mau pulang bersamamu, Shizu-chan.”
.
.
.
“Ne, Shizu-chan?”
“Apa?”
“Apa kau mau mengantarku ke toko kue itu? Dari dulu
aku sangat ingin membeli kue chesseecake
itu. Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Lain kali saja.” Shizuo terdiam
sejenak.
“Ji-Jika kau mau, aku bisa mengantarmu. Jika itu
maumu.” Sizuo tiba-tiba berkelakuan baik. Izaya merasa bingung olehnya.
“Huwaaa! Terima kasih, Shizu-chan~”
“Iya, iya.”
.
.
.
“Shizu-chan terima
kasih~”
“Apa?”
Karena kau sudah
berbaik hati kepadaku.”
“Iya, iya.”
Mereka berjalan
bergandengan tangan. Shizuo sesekali menatap wajah manis Izaya. Wajahnya
sedikit pucat, namun bibirnya sangat merah.
“Oi, Izaya.”
“Hm?”
“Apa kau menyukai
seseorang?”
“Etto—Ada.”
“Siapa itu?”
“Aku tidak bisa
memberitahumu, Shizu-chan.”
“Kenapa? Kenapa kau
tidak bisa memberitahuku?” Izaya terdiam. Kakinya tiba-tiba berhenti. Shizuo
menatapnya heran.
“Ka-karena, orang yang
sukai….”
“Orang yang kamu sukai
kenapa?” Shizuo bertanya agak sedikit kasar namun, ia tidak berani memarahinya.
“Orang yang aku sukai…
Ada di sini. Sedang berjalan bersamaku.” Ucap Izaya pelan. Meski pelan, itu
membuat mata Shizuo terbelalak. Shizuo tidak menyangka bahwa orang yang ia
cintai memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia mendekati Izaya yang terdiam
di tempat. Shizuo mendekap tubuh ramping Izaya. Matanya mengeluarkan air mata.
Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia.
Mata Izaya membulat,
wajahnya memerah karena malu. Ia tak menyangka bahwa temannya yang dulu
membencinya, sekarang tiba-tiba memeluknya.
“Terima kasih, Izaya.
Aku mencintaimu.” Shizuo terus memeluk Izaya dengan erat. Izaya hanya tersenyum
dan membalas pelukan hangat Shizuo.
“Ya, aku juga. Aku juga
mencintai Shizu-chan.” Di saat yang bersamaan, bunga sakura mulai berjatuhan
mengelilingi mereka berdua. Shizuo mencium kening Izaya. Ia sangat mencintainya
lebih dari siapapun. Hanya Izaya yang berada di hatinya. Hanya Izaya. Begitu
juga Izaya yang mencintai Shizuo.
.
Namun,
perasaan itu tidak berlangsung lama
.
24
Desember 2013, Di kediaman Heiwajima.
Shizuo sedang mengganti
bajunya dan memakai mantel berwarna coklat tua. Ia bersiap-siap karena hari ini
adalah malam natal yang menyenangkan. Hari ini ia akan berkencan dengan kekasih
pertamanya, Orihara Izaya.
Tut…
“Moshi-moshi?
Shizu-chan, apa kau sudah siap?”
“Aku
sudah mau pergi.”
“Baiklah,
aku tunggu kau. Di depan sekolah Raira Gakuen.”
“Baiklah.
Tunggulah aku.”
Shizuo bergegas pergi
dari rumahnya. Ia berjalan di tengah salju yang tipis. Ia mendapati sebuah SMS
dari kekasihnya.
To:
Shizu-chan
Subject:
Kencan
Cepat
datang! Aku sudah menunggumu.
Shizuo tersenyum lembut
dan membalas SMS dari kekasihnya itu.
To:
Izaya
Subject:
Kencan
Baiklah,
aku akan ke sana sebentar lagi. Tunggulah! Aku mencintaimu.
Shizuo langsung berlari
menuju sekolah karena mereka akan janjian di depan sekolah Raira Gakuen.
.
.
.
Setelah sampai di sekolah, terlihat seorang lelaki
duduk di depan gerbang sekolah Raira Gakuen.
“Apa kau sudah lama menunggu?”
“IYA! Aku sudah lama menunggumu, Shizu-chan. Kau
lama sekali.”
“Hahaha! Maafkan aku, Izaya.” Izaya hanya mengendus
kesal. Ia berlama-lama di sini menunggu kekasihnya datang untuk bertemu
dengannya.
“Ya sudah! Ayo, kita jalan-jalan. Kau mau ke mana?”
“Hmm, aku mau ke bioskop, sesudah itu aku mau makan,
lalu aku mau ke toko kue.”
“Baiklah. Jika itu maumu, akan ku turuti kali ini
saja. Hari ini, aku yang traktir.”
“Benarkah? Yatta!
Terima kasih, Shizu-chan! Aku mencintaimu!” Izaya memeluk leher Shizuo dengan
erat. Shizuo sangat senang karena ia bisa membahagiakan kekasihnya itu.
.
Namun,
rasa bahagia ini, lama-kelamaan akan memuudar seperti kabut.
.
.
Di dalam bioskop itu, banyak sekali orang yang
bermesra-mesraan. Shizuo merasa malu untuk merangkul kekasihnya itu, ia hanya
takut. Namun, ia memberanikan diri untuk merangkul Izaya. Akhirnya, ia bisa
merangkul kekasihnya itu dengan lembut. Mata Izaya membulat, malu. Izaya hanya
diam, menigizinkan Shizuo untuk merangkul kekasihnya.
Di tengah tontonan film bioskop, Izaya merasakan ada
sedikit nafas di telinganya.
“Kau tahu? Aku suka bagian ketika mereka ciuman.”
Ujar Shizuo lembut.
“Hmm… Aku juga.” Izaya tersenyum lembut ke arah
Shizuo. Shizuo menatap lembut kearah Izaya, begitu juga Izaya yang menatap
lembut kearah Shizuo. Keduanya saling berpandangan. Namun, makin dekat, makin
dekat… Dan akhirnya bibir mereka bersatu. Mereka berciuman di tengah-tengah
pertontonan bioskop yang sedang berlangsung. Shizuo mencium bibir Izaya dengan
lembut. Begitu juga Izaya..
.
.
.
4
Januari 2014, Di kediaman Orihara.
“Iya, aku baik-baik
saja, Shizu-chan.”
“Kau
yakin?”
“Aku yakin. Aku sedang
bermain game di rumahku.”
“Kau
tidak sakit, kan?”
“Aku? Tidak, kok.”
“Ya sudah. Selamat
tidur. Aku mencintaimu, Izaya.”
“Ya selamat tidur. Aku
juga mencintaimu.”
Beberapa hari berlalu,
Shizuo selalu menelepon atau mengirim pesan kepada Izaya. Ia sangat mengkhawatirkannya.
Ia harus selalu melindungi Izaya. Ia akan melakukan apapun demi Izaya.
.
.
.
20
Januari 2014, Di kediaman Heiwajima.
Shizuo diam di sofanya
sambil menatap kosong kearah TV. Sudah 3 hari sejak Izaya tidak meneleponnya.
Ia jadi semakin khawatir. Dan tiba-tiba saja, handphone-nya berdering. Shizuo segera melihat layar handphone-nya dan memeriksa siapa yang
meneleponnya. Ternyata yang menelepon itu adalah Izaya. Ia langsung mengangkat
teleponnya.
“Moshi-moshi, Izaya?
Ada apa?”
“Ano,
Shizu-chan. Bisakah kau bertemu denganku hari ini?”
“Di mana? Aku akan ke
sana.”
“Di
taman sebelah utara kota Ikebukuro.”
“Baiklah, aku akan ke
sana. Tunggulah aku, Izaya.”
“Baiklah.
Aku akan menunggumu. Aku mencintaimu.”
“Ya, aku juga
mencintaimu.”
Shizuo lalu menutup handphone-nya. Ia mengambil mantel yang
berada di sofanya dan bergegas pergi meninggalkan rumah. Ia berlari secepat
mungkin menuju taman utara.
.
.
.
Shizuo melihat
sekeliling taman yang luas itu dan melihat seseorang memakai mantel berwarna
hitam. Ia mendekati orang itu dan menyapanya.
“Maaf membuatmu lama
menunggu, Izaya.” Izaya lalu menoleh kearah sumber suara orang yang
memanggilnya.
“Kau lama sekali,
Shizu-chan.”
“Maaf! Aku benar-benar
minta maaf.” Izaya hanya tersenyum lembut kearah kekasihnya itu. “Tidak
apa-apa. Shizu-chan memang selalu telat, ya.” Ujar Izaya dengan nada jahil.
“Bodoh, kau! Jadi, ada
apa kau memanggilku, Izaya?” Izaya hanya terdiam. Sepertinya dia mempunyai
masalah.
“Begini—”
“Hm?”
“Bi-bisakah kau
mengabaikanku untuk satu hari ini saja, Shizu-chan?”
“Mengabaikanmu? Seperti
apa?”
“Hmmm…. Seperti, tidak
meneleponku atau semacamnya.”
“Kenapa? Karena aku
selalu meneleponmu? Jadi, kau merasa kesal?”
“Ti-tidak! Bukan itu!”
“Lalu?” Shizuo menatap
Izaya dengan tatapan heran.
“Aku hanya ingin kau
mengabaikanku saja. Setelah itu, besok kau harus ke rumahku untuk bermain.”
Shizuo menatap Izaya dengan tatapan heran. Namun, ia percaya akan kekasihnya
itu.
“Baiklah. Aku bisa,
jika itu maumu, Izaya.”
“Benarkah kau bisa?”
“Iya, aku bisa.”
“Syukurlah, jika kau
bisa. Dan, besok kau harus ke rumahku, ya!”
“Baiklah! Aku akan ke
rumahmu besok.”
“Aku tunggu kau,
Shizu-chan. Selamat tinggal! Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu.”
Mereka saling berpisah
satu sama lain. Shizuo percaya bahwa Izaya akan baik-baik saja.
Setelah Shizuo sudah
menghilang dari tatapannya, Izaya menangis sedih.
“Maafkan aku,
Shizu-chan. Tapi, aku tidak bisa.”
Selama 24 jam ini, Shizuo tidak menelepon atau bahkan mengiriminya pesan. Karena, ia bisa jika itu adalah kemauan Izaya.
.
.
.
21
Januari 2014, Di kediaman Heiwajima.
Shizuo bersiap-siap memakai mantel yang selalu
dikenakannya. Ia bersiap-siap untuk pergi ke rumah kekasihnya, Izaya. Pukul
11.30 siang. Ia lalu bergegas keluar rumahnya. Di perjalanan, ia melihat
sepasang burung berwarna biru yang mengelilinginya. ‘Sepertinya, ini akan
menjadi hari yang paling special bagiku dan Izaya’ gumamnya. Ia membeli satu
bucket bunga bewarna merah dan pink untuk kekasihnya. Shizuo merogoh kantung
mantelnya dan mengmbil sebuah kotak kecil yang berisi sepasang cincin berwarna
perak. Di salah satu cincin itu, terdapat sebuah tulisan ‘Shizuo’, dan yang
satunya bertuliskan ‘Izaya’. Ia berharap Izaya mau menerima lamarannya hari
ini.
.
.
.
Sesampainya di depan
rumah Izaya, ia memencet bel yang bertuliskan nama marga ‘Orihara’ itu.
Dilihanya seorang lelaki dengan berpakaian baju pelayan. Pelayan itu heran
ketika melihat Shizuo yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.
“Siapa Anda? Anda ingin
bertemu dengan siapa?” tanya pelayan itu.
“Ah, aku ingin bertemu
dengan Orihara Izaya. Saya temannya, Heiwajima Shizuo.”
“Oh, silahkan. Tuan
Izaya sedang berada di rumah. Ia sedang terbaring di kasurnya.”
Pelayan itu langsung
membuka gerbang itu dan mengizinkan Shizuo masuk. Pelayan itu menunjukkan arah
ke kamar Izaya. Ketika masuk, terlihat Izaya yang sedang terbaring di kasurnya.
Shizuo diam terpaku di
ambang pintu kamar Izaya. Matanya membulat, lidahnya kelu, kakinya tak bisa
digerakkan. Dan tiba-tiba saja bunga yang sedari tadi digenggamnya, kini jatuh
berantakan. Ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati orang yang terbaring
di kasur itu. Shizuo mendekatkan wajahnya kepada wajah orang yang terbaring
itu.
“Jadi, inikah alasan
kenapa aku harus mengabaikanmu, Izaya?” Shizuo memeluk kepala Izaya. Air
matanya tiba-tiba jatuh.
“Iza—”
Srak!
Sehelai kertas jatuh
dari mejanya. Shizuo membuka isi kertas itu dan terdapat sebuah surat yang
tercatat di kertas itu.
Dear,
Shizu-chan…
Terima
kasih karena kau selalu mencintaiku hingga akhir ini, Shizu-chan. Maafkan aku
karena tidak bisa membalas apa yang kau perbuat untukku. Meski begitu, itu
sudah cukup bagiku. Aku sangat bersyukur dapat menjadi kekasihmu.
Oh
iya, satu hal lagi, Shizu chan.
Selamat!
Kau berhasil mengabaikanku selama 24 jam. Sekarang, coba kau seperti itu seumur
hidupmu! Tanpa diriku.
Maaf
karena telah membuatmu sedih.
Kita
akan bertemu di kehidupan selanjutnya.
Salam
Kasih Sayang,
Orihara
Izaya.
Membaca pesan itu,
Shizuo terus menggoyang-goyangkan tubuh Izaya.
“Izaya, lihat! Aku
membawakanmu sepasang cincin untukmu dan aku. Kau suka, kan? Aku juga
membelikanmu sebuah bucket bunga untukmu. Warnanya sangat indah. Izaya?! Kita
akan menikah, kan? Izaya! Kumohon jawab aku! Bangunlah dan lihatlah sepasang
cincin ini, Izaya. Kita akan menikah dan memulai hidup baru. Izaya! Izaya!”
“Maafkan aku, Tuan.
Tapi, Tuan Izaya sudah meninggal karena kanker yang dideritanya.”
Shizuo menangis tak
hentinya. Ia terus memeluk Izaya dengan erat seolah-olah tidak ingin pergi dari
sisinya.
“Izaya! Kenapa kau
tidak memberitahuku tentang penyakitmu?! Hoi, Izaya!”
“IZAYA!”
Shizuo menangis, air
matanya membasahi pipi mulus milik Izaya.
Tubuh yang selalu
mendekapnya dengan lembut dan hangat, kini sudah tidak ada lagi, tubuhnya sudah
terbaring lemah di kasur. Nyawanya melayang, jasadnya masih terbaring.
Bibir yang selalu
menciumnya dengan penuh kasih sayang, kini sudah hilang.
Seulas senyum yang
selalu membuatnya tenang, kini sudah menjadi seulas senyum yang membuatnya
sedih.
-End
of Flashback-
Shizuo Heiwajima terbaring
lemah di kasurnya. Sesekali ia membuka matanya tapi hanya sedikit. Wajah dan
bibirnya pucat. Tangannya hanya bergerak sedikit. Ia lalu tersenyum lemah.
“Ternyata benar katamu,
Izaya. Hidupku tidak akan lama lagi. Aku akan bertemu denganmu di kehidupan selanjutnya. Terima
kasih, Izaya. Aku, mencintaimu.”
Jika
tubuh ini tidak dapat mendekapmu sepenuhnya, tapi cintaku akan selalu
mendekapmu agar kau bisa lebih tenang.
-Orihara Izaya-
4 Mei 1979 – 21 Januari
2014
Aku
akan selalu mencintaimu jika jasadmu nanti dikuburkan. Aku akan bertemu
denganmu di kehidupan selanjutnya. Tunggulah aku, Izaya.
-Heiwajima Shizuo-
28 Januari 1979 – 25
Januari 2014
-Fin-
A Fanfic for Nagisa Zappelin's Challenge: Minor
Fanfic by : Upi Heichou
Review-nya di tunggu, ya~ ^^